Objek Seks


oleh Juman Rofarif

img_0412bjklbhkbjklllnk.jpg

Saya tidak menganjurkan Anda membeli majalah Male Emporium (ME), X Men’s Magazine, Popular, FHM, dan Maxim, dan majalah sejenis, atau membuka situs worldsex.com, lalatx.com, penthouse.com, playboy.com, atau searching di google dengan keyword “bugil”, “telanjang”, “bokep”, “seks”, “sex”, dan seterusnya dan seterusnya…

sex-workers1.jpg

Terlepas setelah Anda membeli, membuka, dan melihat apa yang tidak saya anjurkan tersebut, Anda betah menikmati walaupun mengingkari, atau mengingkari tapi ingin menikmati, menikmati tidak mengingkari, atau tidak menikmati sekaligus mengingkari, yang jelas ada satu hal yang ketara (paling tidak menurut saya), yaitu objekisasi perempuan sebagai simbol seks. Suka tidak suka, yang namanya objek seks adalah perempuan. Sebagai objek, perempuan hanya dihargai karena kemolekan body-nya. Ia diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan tak ubahnya (dijadikan) seperti kambing; mahluk tak berpikir yang dihargai karena kelezatannya. Jangan harap dalam majalah-majalah cabul atau situ-situs cabu tersebut akan ditemukan banyak model pria dengan pose telanjang. Alasannya simpel: karena tentu saja pria tidak laku dan tidak akan menarik dijadikan objek seks.

Ironisnya, sadar atau tidak, (sebagian) perempuan sendiri terlibat dalam objekisasi dirinya. Mereka bangga menjadi model telanjang untuk sebuah majalah demi obsesi popularitas dan titian karir. Menguntungkan, memang. Karenanya menjadi idaman perempuan yang terobsesi menjadi model. Pelabelan “majalah khusus pria dewasa”, “adult only”, semakin menguatkan fenomena objekisasi tersebut. Dan media massa, cetak maupun elektronik, adalah alat yang paling bertenggung jawab dalam masalah ini. Sebagai penikmat, laki-laki juga seharusnya menjadi pihak lain yang dipersalahkan bukan?! Bukankah sebuah produk tidak bisa eksis tanpa kehadiran konsumen?!

Seharusnya, masalah seperti ini menjadi perhatian para aktifis gender, yang menghendaki kesetaraan gender yang sehat; laki-laki dan perempuan bersaing dalam ruang publik untuk menjadi subyek yang dihargai karena potensi “akal dan pikir”nya, bukan sebagai objek yang dihargai dan dinikmati karena body-nya. Karena dengan akal dan pikiran itulah dapat diidentifikasi hakikat mahluk yang bernama manusia, yang dihargai karena kemanusiaannya.

Kita mengenal istilah al-insan hayawan natiq, pada dasarnya manusia tak tak jauh beda dengan kambing, sapi, anjing, kucing, kutu, burung, kerbau, babi, ayam. Kita punya paha, hewan-hewan itu juga. Kita memiliki syahwat untuk dilampiaskan, hewan-hewan itu juga. Dengan akal dan hati yang memunculkan sikap malu, kita tidak akan melampiaskan syahwat di jalan-jalan. Berbeda dengan hewan-hewan itu yang tidak dianugerahi akal dan pikiran. Bagi hewan-hewan itu, melampiaskan syahwat di sembarang tempat tak jadi soal. Al-insan hayawan natiq, kita adalah hewan yang mampu berpikir.

Objekisasi di atas hanya sebagian perempuan lho. Sebab, mungkin sebagian lagi diisi oleh laki-laki. He…he… Dan banyak pula perempuan-perempuan yang lebih terhormat yang karya nyatanya telah terbukti dan patut diapresiasi…

Advertisements

3 thoughts on “Objek Seks

  1. liat spanduknya saya jadi inget crita sexworkers di amsterdam yg di’manusiakan’. sebelum diperbolehkan beroperasi, mereka dididik dulu sampe dapat sertifikat. baru stelah itu bs beroperasi. masalah kesehatanpun kabarnya terjamin. makanya kawasan x nya ams itu laiknya tempat wisata saja. nah yg menarik, stelah umur 45 thn (kl ga salah) mereka diharuskan pensiun, dan stelah itu dapat tunjangan sosial pensiun, layaknya pns di indonesia. cukup manusiawi kah?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s