Tentang Cantik


Salah satu sisi perempuan yang mendapat porsi perhatian ekstra (waktu dan biaya) adalah kecantikan (lahiriah). Isu kecantikan bukan persoalan sederhana. Ia menjadi isu terpenting, sekaligus kontradiktif, bagi perempuan. Konsep kecantikan lahiriah itu sendiri sangat relatif. Lain budaya, lain pula konsepnya. Lain masa, lain pula deskripsinya. Di Cina, awal abad 20, perempuan cantik adalah pemilik kaki kecil. Sedangkan bagi Suku Dayak di Kalimantan Tengah, perempuan bertelinga paling panjang menjuntai adalah gadis tercantik. Di era 50-an, konsep cantik berkiblat pada aktris Hollywood, Marlyn Monroe, yakni dada besar, pinggang kecil, dan berpinggul besar. Sedangkan era 60-an giliran model Twiggy, berbadan tipis langsing, yang jadi rujukan.

Media massa belakangan sangat berperan mendengungkan konsep kecantikan. Melalui iklan, sinetron, majalah atau video klip terbentuk image bahwa perempuan cantik adalah berkulit putih bersih, bermata indah, berwajah oval, hidung mancung, bibir sensual, tubuh langsing berisi, dan rambut hitam panjang lurus. Itulah mitos wanita sempurna. Gara-gara mitos cantik ini, perempuan bagai dituntut tampil sempurna. Apalagi sudah menjadi fitrah dan naluri, perempuan memang selalu ingin tampil cantik. Di manapun juga di jagad ini, sulit mencari perempuan yang mau tampil buruk, atau bahkan sekedar tampil apa adanya, lebih-lebih jika telah berinteraksi dengan orang lain, lebih-lebih lagi di mata lawan jenisnya.

Adanya berbagai ‘mazhab’ kecantikan yang ditawarkan lewat berbagai media tersebut, sesungguhnya dapat menimbulkan ‘krisis identitas’ dari pihak pemirsa. Sang pemirsa akan terus mencari sosok yang patut dijadikan ‘mazhab’ cantik. ‘Krisis’ itu akan muncul, jika dirinya ternyata sangat jauh berbeda dengan sosok yang diidealkannya. Dari sinilah akan muncul ekses; remaja putri akan merasa minder dengan dirinya, perempuan dewasa tidak segan-segan mempermak wajahnya atau anggota tubuh lainnya sedemikian rupa, hatta operasi plastik, untuk bisa tampil sesuai dengan sosok yang diidealkannya.

Begitulah, jika kecantikan telah dijadikan ukuran standar jati diri dan identitas. Seolah-olah jati diri dan identitas dirinya adalah kecantikannya. Tidak memiliki identitas dan jati diri jika tidak cantik. Pada dasarnya yang demikian tidak salah. Sebab, bagaimanapun, tampil cantik dan sempurna adalah fitrah dan naluri serta dambaan setiap insan. Namun yang perlu disadari adalah, bahwa yang demikian relatif adanya dan bukan segala-galanya. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu inner beauty, kecantikan yang memancar dari dalam jiwa yang bersih. Ini definisi cantik yang lebih positif, bersifat universal dan tidak relatif, karena bersumber dari aturan normatif. Walapaupun definisi ini ‘asing’ untuk diungkapkan di tengah-tengah hegemoni identifikasi cantik adalah penampakan lahiriah. Bagi sebagian orang, kecantikan didefinisikan sebagai inner beauty, tapi lebih banyak lagi yang mengidentikkan cantik dengan penampakan lahiriah.

Masa remaja bagi perempuan adalah masa pencarian jati diri dan identitas diri, sekaligus kegelisihan mencari figur untuk dijadikan ‘mazhab’ identitasnya. Pada masa ini mereka terombang-ambing oleh definisi identitas yang beragam. Mereka terus bereksperimen dan selalu ingin mempraktikan fenomena yang mereka lihat. Ketika muncul fenomena ‘jilbab gaul’, apa salahnya mencoba. Ketika semakin banyak para artis yang mengenakan jilbab dengan style yang ngartisi, kalau bisa ditiru, kenapa tidak.Menurut Mr. Kontroversial Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid, yang seperti ini adalah tanda krisis identitas; tidak berani meninggalkan identitas diri sebagai muslimat, tetapi selalu ingin tampil stylish dan enggan disebut kampungan.

Pada masa inilah mereka masih memerlukan pengarahan dan bimbingan untuk menemukan jati diri serta identitasnya yang sebenarnya yang sesuai dengan dirinya sendiri, bukan memaksakan jati diri dan identitas orang lain untuk disematkan pada dirinya. Dalam hal ini, kecantikan menjadi persoalan yang tak terhindarkan. Ia bagian dari identitas yang juga harus dicari.

Jika berpijak pada aturan normatif, kecantikan atau untuk disebut cantik sesungguhnya menekankan ekuitas dua dimensi, yaitu dimensi material atau lahir (kecantikan lahiriah) dan dimensi imaterial atau jiwa (inner beauty). Keduanya harus seimbang. Aturan normatif mengatakan, bahwa Allah tidak memandang lahiriah seseorang, tapi memandang kepada jiwanya. Namun pada kesempatan lain, Allah menganjurkan tampil ‘cantik’ (khudzu zinatakum) ketika pergi ke masjid untuk menghadap-Nya. Nabi umat Islam, Muhammad Rasulullah diutus membenahi ahlak dan jiwa (inner beuty) umatnya, namun pada kesempatan lain, ketika Nabi didatangi oleh salah seorang shahabatnya yang menenakan pakaian kotor dan compang-camping, padahal ia mampu membeli pakaian yang lebih bagus, Nabi menyuruhnya untuk membeli pakaian yang bagus dan pantas. Ini artinya, definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Cantik luar dalam. Definisi ini lebih positif

Definisi semacam ini harus terus dikampanyekan di tengah-tengah arus budaya hedonis. Apalagi di kalangan remaja putri yang berada dalam masa transisi. Dengan definisi cantik di atas, mereka akan lebih percaya diri dan tidak terombang-ombang dalam kegelisahannya menemukan jati dirinya.

13 thoughts on “Tentang Cantik

  1. pada dasarnya ga ada, bos… tapi saya jadi inget waktu masih SMA dulu. temen-temen ngadain diskusi judulnya “pengaruh cinta dalam pendidikan”. terus ada yang bilang, cinta (khususnya kepada sanga pacar) bisa mempengaruhi pada kerajinan siswa. dia lebih bersemangat masuk sekolah, karena ada sang pacar.

    mungkin kecantikan juga kaya gitu. bikin semangat “dirosah”. gimana ga semangat kalo temen-temen cewek kelas kita cantik semua, kaya dian sastro or sandra dewi…

    wadauuuwww…. pertannyaannya ada-ada aja….

    Like

  2. Dirosah, “D” nya hurup gde man. mungkin yg dimaksud itu efde-i. ayo.. ada hubungan apa dgn si cantik. jangan2 kamu rajin kuliah karena si cantik ya? haha..
    Yups, ‘cantik’ memang konstruk budaya. Coba kalo indonesia ga pernah dijajah org kulit putih, mungkin versi cantik mnurut kita adalah cewek dgn kulit sawo matang, hidung ga bangir2 amat, dst. kalo dicari di fdi, mirip siapa yah? :))

    Like

  3. posting saya itu mewakili idealisme saya… walopun pada realitanya masih sedikit (sedikit doang lho!) pragmatis. so, mungkin juga kita (saya, ente, dan temen-temen yang lain… he..he…) dulu semangat kuliah karena temen-temen kita banyak yang cantik-cantik… he…he… ya ngga?!

    fat, tulisan itu kan saya bikin dulu banget, waktu kita masih di FDI. awalnya itu adalah latarbelakangg prposal untuk sebuah seminar. ria yang minta saya bikin. trus, tulisan itu juga saya masukin ke buletin kita tercinta, “PARADOKS” yang sekrang sudah almarhum….

    Like

  4. Yg bener paradoks dah almarhum man? wah, gmn sobat2 penerus ini.
    Yups, aku masih ingat tulisan ini. tulisan2ku di paradoks dulu jg aku posting di blogku. Tapi ada beberapa edisi yg hilang. kamu punya lengkap ga man?

    Like

  5. salam

    ada yang pernah baca cerpen “cantik” karangan putu wijaya di buku “zig-zag”? isi cerpen itu tentang perdebatan cantik yang ujung2nya semua itu hanya ada dalam persespsi masing-masing otak saja..ya, cantik itu tergantung persepsi orang, atau — kata kang fathan — konstruk budaya…oh ya, di daerah afrika sana, ada anggapan yang cantik itu, yang gemuk, gembur-bur-bur..semakin gembrot semakin cantik dan seksi…ini selera juman sesungguhnya..

    yang jelas, tak ada yang lebih cantik dari isteri dan puteriku sendiri..hii..man, ini aku dah komentar: puas? hee..komentar orang kok diminta-minta…berkali-kali pula mintanya..

    nhm

    Like

  6. hahaha… kamu ktauan! Baru tahu Kang Huda kalo Juman dah brubah sleranya. Jangan2 stelah dikasih tau ust. Rusli kalo di Sudan org makin item makin cakep, Juman lantas brubah pikiran…

    Like

  7. Yaa… saya setuju mengenai definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas.
    Tapi bagaimana qt bisa melihat atau mengetahui dan memastikan bahwa wanita yang qt knal mempunyai kecantikan (jiwa yang bersih) tersebut?
    Klo cantik lahiriah, bisa terlihat dengan mata qta.
    thanks atas perhatiannya, dan klo boleh di jawab ya….

    Like

  8. ada seorang teman yang kirim imel seperti ini:

    Cowok : Akhirnya aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama
    Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi ?
    Cowok : Tentu Tidak!!Jangan pernah kau berpikiran seperti itu
    Cewek : Apakah Kau mencintaiku ??
    Cowok : Tentu !! Selamanya akan tetap begitu
    Cewek : Apakah kau pernah selingkuh ??
    Cowok : Tidak !! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu
    Cewek : Maukah kau menciumku ??
    Cowok : Ya
    Cewek : Sayangku…. …

    Sesudah 5 tahun nikah….tinggal baca dari bawah ke atas

    aku tau imel itu hanya sebuah joke yang menurut pengirimnya mungkin ber-genre “segar”, tapi ada sedikit yang menggangguku, aku menamainya “it’s just a matter of choice”

    kenapa harus cewek yang dijadikan objek joke, kenapa bukan cowok?
    it’s just a matter of choice dari pengarang joke itu.

    sama seperti teman2 kelasku waktu pelajaran pragmatics beberapa minggu lalu mengajukan sebuah contoh “he divorce her” (dia laki2 menceraikan dia perempuan). kenapa harus “He”?, apa “she” tidak bisa menceraikan “him”? dan anehnya dari 15 orang penghuni kelas C, hanya aku satu-satunya yang sangat terganggu dengan contoh itu, yang lainnya just keep silent..seolah-olah contoh itu adalah hal yang lumrah dan tidak patut diperdebatkan.
    it’s just a matter of choice dari si pembuat contoh itu.

    sama seperti ketika El-Syirazi memilih karakter Aisyah yang pantas mendapatkan cinta Fachri di novel best-sellernya, Ayat2 Cinta. kenapa harus Aisyah yang bule, pirang, langsing, tinggi, putih, &berhidung mancung? kenapa bukan Nurul yang pribumi, berkulit coklat, dan berhidung pesek???? sekali lagi it’s just a matter of choice dari pengarangnya (el_Syirazi).

    kesimpulannya….ketika di satu garis kita mendeskripsikan “cantik” dengan inner beauty, maka sebuah keharusan jika di lain garis kita pun harus konsisten dengan deskripsi dan konsep itu. jangan sampai suatu waktu kita mensupport dan menjunjung wanita dengan inner beauty konsepnya, tapi di lain waktu kita memarginalkan, behkan menertawakan eksistensinya dengan joke2 yang garing abiz.

    mungkin ada yang berpendapat “ah…itu kan masalah kecil, ayin? janganlah kau besar-besarkan”,
    justru dari hal yang kecil itulah kita bisa mengubah sebuah pandangan yang umum tapi keliru.
    kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi???
    kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi???

    Like

  9. dari komentar2 diatas ada yang sedikit mengganggu pikiran saya. seandainya bisa bertanya, seperti apakah wanita yang penulis sukai. apakah benar seperti yang tertera ditulisan ataukah seperti yang ayin tulis di kolom paling akhir, hanya sebuah dilematis panjang….bisa berpandangan bahwa cantik tak selamanya terlihat dari lahiriyah, namun cantik mampu bersinar dari dalam diri sebagai inner beauty. Kenyataan dilapangan, tidak ada laki2 yang menolak disodori wanita cantik, atau tidak ada laki2 yang mencari wanita yang jelek(kasarnya seperti itu)…

    wah, mewakili wanita2 yang ada…diantara komentar2 para laki2 dikolom ini, saya hanya mampu berpendapat jangan hanya memandang wanita dari lahiriyahnya namun pandang mereka dari cara mereka bisa meneduhkan anda saat anda sedang bersamanya……

    hemmmm, sekedar iseng mengomentari kang….
    jadi tergelitik untuk mengomentari juga…

    Mohon dimaafken bila da salah2 kata

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s