Intuisi, Bercinta, dan Menulis


Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya?

Berikut adalah ekspresi berlebihan mencintai seorang kekasih, dan Anda boleh tidak percaya… Yang terjadi, saat itu, semuanya menjadi indah, semua menjadi bermakna, tapi sekligus tidak masuk akal, tidak bisa dinalar oleh rasio dan tidak logis. Bagaimana tidak, ruang kelas yang penuh dengan dengan puluhan mahasiswa, yang tentu saja panas dan gerah, bagi saya adalah sebuah taman luas nan indah dan segar. Dan, seolah-olah di taman itu yang ada hanya saya dan dia. Kuliah dan kampus sepertinya menjadi sebuah kegiatan dan tempat yang menyenangkan.

Apapun yang melekat pada si dia, dari ujung rambut sampai ujung tali sepatu menjadi penuh makna. Gaun warna biru yang dikenakannya, yang bagi orang lain ia tetaplah warna biru yang membisu tanpa makna, bagi orang kasmaran hal itu tentu termaknai begitu dalam, seolah-olah ada pesan yang ingin disampaikan oleh si dia lewat warna biru gaunnya itu. Dia yang jauh di di balik tembok tebal sana, seolah-olah berada dekat di sini. Dia yang jauh di mata, begitu lekat di hati.

Orang yang sedang kasmaran, mampu membalik keadaan menjadi seratus delapan puluh derajat. Naik angkot akan berubah seperti naik mobil pibadi serba mewah. Halte bus dan pertigaan akan berubah menjadi sebuah tempat penantian yang menyenangkan, biarpun kendaraan yang telah berjam-jam ditunggu tak kunjung muncul, padahal pada saat itu ia bisa saja menjadi tempat yang menjemukkan bagi orang lain.

Terlalu berlebihan memang, bahkan bisa dibilang mustahil ‘aqly adanya, tidak masuk akal. Bagaimanapun, akal tidak akan menerima adanya angkot jelek yang bisa berubah seketika menjadi mobil pibadi serba mewah. Akal tidak akan menerima adanya halte bus yang berubah menjadi tempat menyenangkan. Akal juga tidak akan menerima adanya gaun warna biru, yang notabene ia adalah benda mati, yang bisa menyampaikan sebuah pesan. Akal tentu tidak akan menerima, objek yang jauh di mata, pada saat itu juga menjadi dekat di hati. Bagaimana juga, akal akan menerima adanya ujung tali sepatu, apalagi sepatu butut, yang memiliki ‘makna’, paling-paling maknanya, ya, pemiliknya lagi bokek dan tidak mampu membeli sepatu baru.

Tapi, sesungguhnya bagi orang yang sedang jatuh cinta, fenomena-fenomena (pengetahuan) tersebut bisa riil adanya, walaupun tetap tidak masuk akal.Kok, bisa?

Cinta, termasuk bermacam derivatifnya, merupakan persoalan yang menjadi wilayah hati (intuisi), bukan akal dan indra. Untuk memahami cinta kita harus menggunakan intuisi sebagai alat yang paling tepat untuknya. Sebab dalam bercinta akan muncul banyak fenomena yang tidak bisa dimengerti dan pahami oleh akal, namun hati (intusisi) sangat mengerti dan memahaminya.

Maka tidak heran jika akal, penalaran rasional, dan indra akan mengatakan tidak mungkin, bahkan mustahil adanya, terhadap fenomena-fenomena yang dialami oleh orang yang sedang kasmaran di atas. Tapi, dengan intuisi, cinta dan fenomena-fenomena yang lahir darinya bisa dipahami dan dimengerti, bahkan bisa riil adanya, tidak lagi mustahil. Maka, jika dihadapkan pada persoalan cinta, kedepankanlah hati (intuisi), dan kesampingkanlah akal dan indra. Akal tidak bisa berkata apa-apa tentang cinta, pikiran buntu, lidahpun kelu. Tentang cinta, hati lebih mampu berkata dan berpikir.

Yang menjadi pertanyaan, kemudian, adalah bagaimana cara memperoleh pemahaman yang hanya bisa dipahami oleh intuisi itu? Praktisnya, bagaimana mendapatkan pemahaman tentang ‘cinta’ dan berbagai fenomena yang muncul karenanya? Bagaimana cara melekatkan si dia di dalam hati pada saat dia jauh berada di balik tembok tebal sana? Bagaimana cara menangkap pesan yang disampaikan oleh si dia lewat gaun birunya? Bagimana cara merubah halte dan pertigaan menjadi tempat yang menyenangkan? Jawabannya sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan akal, tapi bisa dengan intuisi.

Pemahaman intuisi adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman atau ‘eksperensial’. Kita mengerti ‘manis’ bukan dari kata orang atau lewat bacaan, melainkan dengan cara mencicipi gula. Kita mengerti ‘pedas’ bukan lewat teori, tapi setelah kita mengunyah cabe.

Analogi-analogi itu harus diterapkan pada masalah cinta, jika Anda benar-benar ingin tahu apa itu apa itu ‘cinta’. Cinta tidak bisa dipahami lewat bacaan atau teori-teori cinta yang sering kali tidak sesuai dengan yang dialami (termasuk tulisan ini) melainkan memahami betul-betul jatuh cinta. Jika Anda betul-betul ingin mengenal cinta, berusahalah jatuh cinta. Jalal al-Din al-Rumi pernah mengatakan, “Kalau Anda ingin mengetahui api secara intuitif, pangganglah diri Anda di atas api!”

Dengan demikian, Anda akan dapat merasakan ruang kuliah yang berubah menjadi taman luas; karena cinta lewat intuisi. Halte dan pertigaan akan berubah menjadi tempat mengesankan; karena cinta lewat intuisi. Si dia yang jauh di sana akan selalu lekat di hati; karena cinta lewat intuisi.

Terus, hubungannya dengan menulis?

Seperti halnya bercinta, menulis merupakan pengetahuan ‘eksperiensial’ atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, dalam arti Anda tidak akan memiliki pengetahuan tentang menulis kecuali Anda pernah menulis. Menulis tidak bisa hanya dibayangkan lewat akal, tapi dengan betul-betul menulis itu sendirilah Anda akan dapat memahami pengetahuan tentang menulis. Menulis tidak bisa dipahami lewat buku-teori tentang tulis-menulis atau lewat pelatihan jurnalistik. Buku-buku dan pelatihan jurnalistik itu akan menjadi percuma sama sekali dan cenderung membuang waktu, biaya, dan tanaga jika dalam diri Anda sendiri tidak pernah terbesit sama sekali untuk mencoba menulis.

Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller, pernah berujar, “Dengan membaca buku teori tulis-menulis, Anda baru “belajar tentang” dan sama sekali belum “belajar” mengarang/menulis. Mengarang/menulis adalah praktek. Sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa”.

Jadi, percayalah, teori-teori (tentang menulis) yang didapat dari buku-buku ataupun pelatihan jurnalistik selamamya akan menjadi pengetahuan yang membeku di otak semata, jika Anda tidak pernah mencoba untuk prektek menulis. Masih nggak percaya?! Tanyain aja sama kawan-kawan yang pernah ikut pelatihan jurnalistik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s