Surat Terakhir Seorang TKI


Istri Marto, Nunik, berangan-angan, kelak, ia ingin membangun rumah dan membuka toko. Rumah itu akan dibangun persis di belakang rumah orang tuanya. Alasannya, “Ya, biar dekat sama ibu,” begitu katanya. Maka, ketika suaminya, Marto, berniat bekerja di Arab Saudi menjadi TKI, ia seolah tak ada alasan untuk menolak niatan suaminya itu, walaupun agak berat dan ragu. Alasan pertamanya, tentu saja, karena Marto adalah: “Saya akan menjadi partner sehidup-sematimu, Dik!,” gombal Marto kepada Nunik sewaktu masih pacaran dulu. Mana tahan Nunik ditinggal suaminya tercinta dalam jangka waktu yang tak sebentar, tahunan! Alasan selanjutnya yang membuat Nunik ragu adalah ‘kengerian’-nya melihat nasib TKI, yang ia ketahui berita di tv-tv. Kalau lewat koran tidak mungkin. Mana ada, orang kampung yang mau langganan koran. Berita-berita itu terkadang meragukan hati Nunik untuk merelakan Marto menjadi TKI di negeri orang.

Memang, nasib TKI memang memprihatinkan. Mereka mengalami ketidakpedulian, baik di luar negeri, apa lagi di dalam negeri, justru ketidakpedulian itu memperoleh porsi terbesar.

Perjalanan seorang TKI ke luar negeri adalah perjalanan yang sarat dengan kejahatan, dari awal sampai akhir. Sejak berangkat sampai pulang, mereka mengalami lorong-lorong kekejaman. Kekejaman administratif, kekejaman calo, dan kekejaman majikan. Dan, porsi kekejaman terhadap mereka lebih banyak terjadi di Tanah Air sendiri dari pada di Luar Negeri. Begitu, kata sebuah berita malam di televisinya.

Tapi, dasar ndeso, keluarlah watak kampungan seorang Nunik. “Ah, yang kaya gitu kan cuma di tipi!” Nunik tidak dapat mebedakan mana yang sinetron dan mana yang berita faktual. Ah, barang kali ia sudah termakan oleh sinetron-sinetron itu. Menganggap semua yang di televisi adalah bohongan belaka. “La iku, mbakyuku, delo’en dewek! Untung gak mlebu tipi!” (Lihat sendiri tuh kakakku! Untung tidak masuk televisi), ia membatin membela diri jika melihat tayangan keprihatinan nasib TKI di televisi.

Ia begitu yakin, suaminya bakal sukses jadi TKI di Arab. Ia merujuk pada kakak perempuannya yang telah sukses menjadi ‘alumnus’ TKW, dan kini telah masuk dalam deretan orang-orang berduit di kampungnya. Sawah, yang menjadi simbol kemakmuran di kampungnya, puluhan hektar ia punyai. Tapi angan-angan istri Marto tidak sejauh itu. Ia, setelah suaminya pulang dari Arab, hanya ingin mewujudkan rumah dan toko untuk usaha sampingannya. Kesuksesan kakaknya itulah yang ia jadikan lagu manis untuk menepis segala keraguan di hatinya.

Untuk itu, Marto harus meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh konveksi di Bandung, yang memperkerjakan barang-barang dari kulit. Marto pernah bilang, konsumen dari barang-barang produksinya rata-rata adalah para artis. Pekerjaan itu sudah lama ia jalani, bahkan sebelum menikahi pacarnya yang telah menjadi istrinya itu. Pekerjaan itu sebenarnya sudah mencukupi untuk kehidupan mereka berdua dan seorang putrinya. Gajinya lumayan. Kalau mau bersabar, sebenarnya rumah yang menjadi impian mereka berdua, bisa mereka wujudkan tanpa harus melepas Marto menjadi TKI.

***

Istri Marto memegang surat dari suaminya, Marto. Tak jelas, apa yang sedang ia lakukan dengan surat itu. Pandangannya tidak tertuju benar pada surat itu. Cuma sesekali saja kalimat demi kalimat surat itu ia pandangi. Setelah itu, air matanya berlinang. Ia menangis. Kadang tersenyum, tapi agak tertahan. Sesekali sesenggukan. Dalam surat itu, Marto bercerita kalau dia sudah agak betah dengan pekerjaanya sebagai supir. Komunikasi bukan lagi menjadi masalah. Majikannya baik. Setiap pagi, ia harus mengantar tiga putra majikannya ke sekolah. Ia bercerita, anak majikannya itu dekat dengannya tapi agak bandel. Ia juga bercerita, keadaannya baik-bak saja. Dalam surat itu juga, Marto melampirkan beberapa foto dirinya. Foto-foto itu menampilkan dirinya sedang berpose bersanding dengan mobil-mobil mewah. Katanya, itu semua adalah mobil majikannya.

Dik, piye kabare Neneng?” tulis Marto menanyakan kabar putrinya, dalam surat sepanjang tiga lembar itu. Tulisannya rapi. Rapi memang sifat Marto. Bukan hanya tulisannya, dalam hal berpakaian pun demikian. Masih ingat, ketika ia bertandang ke rumah Nunik, untuk melamar gadis impiannya itu. Berkemeja lengan panjang kotak-kotak dimasukan ke celana hitamnya. Mulus celana itu. Sepatunya kulit mengkilat. Setelah Marto pulang, ibu Nunik bisik-bisik kepada Nunik, “Rapi bener calon suami kamu itu, Nik!” Nunik hanya tersipu malu saat itu.

Neneng adalah putri pertama, dan mungkin yang terakhir, pasangan Marto-Nunik. Nama lengkapnya Neneng Listyaningsih. Untuk nama depan, Marto-lah yang mengusulkan. Keluarga dan tetangga-tetangganya mempertanyakan maksud nama itu, ketika Marto ngeyel mau pakai nama itu. Kenapa bukan ‘Siti’, ‘Nur’, atau ‘Umi’ saja, seperti lazimnya nama depan perempuan-perempuan lain di kampungnya. Bagi mereka, nama itu seperti tidak biasa. “Eh, jangan dikira nama itu saya sembarangan kasih. Bagi saya, nama itu punya kenangan tersendiri. Dan, saya gak bakal gelem ngerubah jeneng iku!” (saya tidak akan merubah nama itu) jawabnya selalu demikian ketika ditanya perihal nama itu.

Iya, nama ‘Neneng’ memang tidak biasa dikasihkan untuk anak perempuan di kampungnya, bahkan, mungkin, tidak ada. Marto pun tahu itu. Katanya, nama itu adalah nama ibu kost-nya ketika ia masih bekerja di Bandung. Ibu kost-nya itu baiknya minta ampun. Suaminya telah lama meninggal. Marto dianggap sebagai anak angkatnya. Kenangnya, dia pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga ibu kost-nya. Ibu kost ikut, tentu saja. Dalam perjalanan itu, ibu kost kelihatan tidak banyak bicara dengan anak-anaknya. Dia lebih banyak dekat dengan Marto. Itu sepengetahuan Marto. Ketika ada kesempatan, ibu kost banyak cerita tentang anak-anaknya kepada Marto. “To, kamu bisa lihat sendiri, anak-anak ibu telah begitu sukses. Tapi, sepertinya hanya kamulah anak ibu sebenarnya.” Kata ibu kost kepada Marto, sambil menunjuk anak-anaknya. “Kenapa, Bu?” pertanyaan yang belum Marto temukan jawabannya sampai dia meningalkan kost-annya itu.

Keluarga ibu kost Marto adalah keluarga besar. Tapi, ibu kost Marto tidak merasakan kebesaran itu. Anak-anaknya telah sukses, tapi ibu kost Marto tidak pernah merasakan kesuksesan itu. Ibu kost Marto adalah ibu-ibu mereka, tapi mereka tidak pernah menganggap ibu kost Marto sebagai ibu bagi mereka. Apa yang mereka lakukan dengan mengajak ibu mereka berjalan-jalan adalah tak lebih dari sebuah ‘konspirasi’ dan kepentingan.

Kata Marto, nama itu ia berikan kepada putrinya untuk mengenang kebaikan ibu kost-nya itu.

***

Nunik masih memegang surat suaminya, Marto. Ia masih menangis. Dipandanginya lagi surat itu. “Dik Nunik, tanah di belakang rumah ibu jangan sampai pindah tangan. Dik Nunik coba terus bujuk ibu supaya tidak menjual tanah itu. Berapapun ibu butuh uang, jangan sampai jual tanah itu. Kalau uang saya sudah terkumpul, saya pasti akan beli tanah itu. Bukankah Dik Nunik menginginkan rumah di atas tanah itu, kemudian buka toko? Bukankah Dik Nunik selalu ingin dekat dengan ibu? Dulu, Dik Nunik, kan, pernah bilang gitu. Pokoknya, bilang ke ibu, Mas-mu ini yang akan beli tanah itu”, kata Marto pada halaman kedua surat itu. Kali ini, Nunik membaca paragraf itu dengan tetesan air mata, sesenggukan, tidak seperti ketika pertama kali membacanya.

Waktu itu, ketika pertama kali membacanya, Nunik senangnya bukan main. Sebab, surat itu begitu memberikan harapan akan impiannya. Nunik langsung cerita dan memberitahukan pada ibunya, mertua Marto, agar tanah itu jangan dijual, tentu ia juga memaparkan alasan-alasannya. Ibu Nunik, mertua Marto setuju. Apa lagi untuk anak perempuan satu-satunya dan menantu yang dulu pernah dipuji karena kepribadiannya.

Nunik adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya, bungsu lagi. Saudara-saudaranya yang berjumlah enam orang, semuanya laki-laki. Dulu, saudara-saudara Nunik yang laki-laki semua itu sering memangilnya “Hei, wadon dewek!” (Hei, perempuan sendiri!). Nunik hanya nyungut sendiri kalau dipanggil dengan panggilan itu. Dia tidak mau dibeda-bedakan

Nunik membuka lembar ketiga surat itu. Ia masih menangis. Air matanya menetes di kertas surat itu. “Dik, saya pernah mimpi, jembatan yang menghubungkan desa kita dengan jalur kecamatan putus gara-gara hujan deras. Lalu lintas macet, bahkan terputus. Jalur ke kecamatan pun akhirnya dialihkan. Dibuat jalur dadakan. Bi Umi, pengusaha tempe, yang jaringannya sampai kacamatan itu, sempat kelabakan, penghasilannnya jadi turun drastis. Tapi itu hanya mimpi, kan, Dik?! Jembatan itu tidak putus, kan?! Bi Umi tempenya masih tetap laris, kan?!”

“Oh, ya, Dik! Bagaimana puasanya?Pasti Adik gembira, ya, bersama keluarga. Tapi, tidak dengan saya, Dik. Saya di sini sendirian. Tidak bisa segembira Adik. Eh, Neneng ikut puasa nggak? Jangan, ah, Dik, dia masih telalu kecil. Dik, masmu kangen. Saat-saat buka puasa, saya selalu teringat Adik, Neneng, ibu. Kalau berbuka puasa, saya selalu terbayang, akhirnya saya jadi kangen. Saya masih ingat, neneng selalu minta disuapin. Sekarang, mungkin, sudah nggak lagi, ya.”

Air mata Nunik keluar lagi. Ia biarkan air mata itu, tidak diusapnya, hingga menetes jatuh ke surat yang dipegangnya.

“Dik, lebaran tahun ini, Mas Marto mungkin belum bisa pulang. Mas Marto minta maaf. Dik Nunik maklum, kan? Mas belum dapat duit banyak. Duit untuk anggaran membangun rumah belum cukup. Belum cukup untuk membangun rumah dan toko. Dik, sebagai gantinya Mas Marto kirimkan uang untuk Adik, buat beli bajunya Neneng. Ibu juga. Ya, pokoknya Dik Nunik atur saja uang kiriman saya itu. Adik lebih tahu kebutuhan.”

“Tapi Dik Nunik jangan khawatir , insya Allah, lebaran tahun depan Mas Marto sudah ada di rumah. Lebaran bersama keluarga. Dan kita akan segera mewujudkan rumah impian Dik Nunik. Di belakang rumah ibu, tentunya, seperti yang Dik Nunik inginkan. Sekali lagi Mas Marto minta maaf. Selamat idul fitri. Selamat lebaran. Sampaikan sungkem Mas Marto pada ibu-bapak. Sampaikan sun sayang Mas Marto buat Neneng. Sampaikan maaf Mas Marto pada saudara-saudara Dik Nunik, tetangga-tetangga juga. Maafkan segala kesalahan saya. Dik, Mas-mu kangen!”

Rasa kangen yang Nunik rasakan, saat itu, jauh lebih besar ketimbang untuk pertama kalinya ia membaca surat itu, kedua kalinya, ketiga kalinya, keempat kalinya, kelima kalinya, dan kali-kali yang lain. Dan, untuk kali itu, ia membacanya dengan rasa sakit yang begitu menusuk hatinya dan mengacaukan denyut nadinya. Bahkan, rasa kangen itu, untuk kali berikutnya, mungkin akan jauh lebih besar dan menyakitkan. Dan rasa kangen itu lebih besar ketimbang rasa kangen yang disampaikan Marto dalam surat itu.

***

Surat itu adalah surat terakhir dari Marto. Surat itu ia terima dari suaminya tiga tahunan yang lalu. Tidak tahu, sudah berapa kali dia memegang dan merenungi surat itu, dan sudah berapa litter air matanya yang keluar untuk itu. Isinya barang kali sudah hafal. Setelah itu, tidak ada kabar sama sekali tentangnya. Tidak ada surat selanjutnya dari Marto. Rimbanya tidak diketahui. Biasanya Marto kirim surat sebulan sekali.

Surat itu telah melewati tiga Ramadhan dan tiga Idul Fitri. Selama itu, Nunik hidup dengan putri tunggalnya, tanpa Marto, tanpa kabar dari Marto. Keadaan sebenarnya tentang Marto tidak pernah Nunik ceritakan dan tampakan kepada putrinya, yang sudah masuk TK itu. Ia selalu ‘mendoktrin’ putrinya, bahwa bapaknya sedang cari duit di Arab. Ia lama tidak pulang, agar dapat duit banyak, kemudian duitnya itu digunakan untuk bangun rumah dan toko. Putrinya hafal dengan ‘doktrin’ itu. Ia akan menjawab demikian, jika ditanya, “Bapak kamu di mana?” Entah jawaban apa yang bakal Nunik berikan pada putrinya, jika kelak besar nanti, ia yang bertanya, “Mak, bapak saya di mana?”

***

Istri Marto, Nunik, masih memegang surat itu. Air mata yang sedari tadi mengalir tidak diusapnya, semakin deras. Entah sudah berapa tetes air mata yang membasahi surat itu. Ia merebah. Diletakannya surat itu di dadanya. Ia sesenggukan. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Berkaca-kaca. Dan, yang ada pada saat itu, hanyalah kesepian, rasa sesak, hati yang tertusuk, dan denyut nadi yang tak menentu. Namun, Ia masih menyimpan sekeping harapan. Ia masih menunggu. Sampai kapan?

Setahun kemudian, di hari raya Idul Fitri…

Nunik memegang surat itu dengan kedua tangan, dan meletakannya di dadanya. Surat itu sudah lusuh. Sambil duduk bersila, ia menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, seperti seorang ibu sedang menimang-nimang bayi. Tatapan kosong matanya membentur langit-langit kamarnya. Rambutnya yang sebahu, acak-acakan tidak terurus. Sepertinya dia sedang melantunkan sebuah lagu, tapi tidak jelas syairnya. Nggremeng. Sesekali tersenyum, kadang tertawa. Tapi, setelah itu, ia menangis. Selain makan dan tidur, hanya seperti itulah Nunik menghabiskan hari-harinya, setengah tahun belakangan, di kamarnya.

Ketika orang-orang dikampungnya merayakan lebaran dengan baju baru dan bersalam-salaman, Nunik hanya mengurung diri di kamarnya, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.

Kenapa Nunik?

***

Di belakang rumah ibu Nunik telah berdiri rumah megah, jauh lebih megah dari rumah ibu Nunik, tentu untuk ukuran di kampungnya. Lantainya keramik. Tidak seperti rumah ibu Nunik yang masih berlantaikan tanah. Di depan rumah itu terdapat bangunan. Bangunan itu adalah toko pemilik rumah megah tersebut. Siapa? Nunik? Sepertinya bukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s