Menulislah Sebelum Mati!


oleh Juman Rofarif

img_1579.jpg

“Qayyidu al-ilm bi al-kitab,”begitu kata shahabat Umar bin Khatab, yang diriwayatkan oleh Imam al-Darimi dalam sunan-nya, mengenai pentingnya menuangkan ilmu, gagasan, ide, dan pemikiran ke dalam tulisan/buku. Anjuran ini bukan semata karena manusia adalah mahluk pelupa dan sering berbuat salah, tapi lebih dari itu, sesungguhnya banyak hikmah di balik anjuran tersebut. Di luar itu, sesungguhnya tulisan memiliki kekuatan luar biasa.

Nama Ulil punya kesan tersendiri. Ia identik dengan Islam Liberal. Nama Ulil terkukuhkan dengan pemikir muda progresif NU setelah generasi Abdurahman Wahid dan Masdar Farid Mas’udi. Tahun 2001, Ulil bergabung dengan kaukus pemikir muda Islam, mengorganisasikan JIL, Jaringan Islam Liberal. Jaringan tersebut dibentuk sebagai wadah dan agensi propaganda gagasan-gagsan Islib yang terlebih dulu digulirkan oleh beberapa pemikir senior, macam Nurkholis Madjid dan Abdurahman Wahid.

Selanjutnya, Ulil ditunjuk sebagai koordinator JIL sekaligus konduktor orkestra yang berisi aneka warna pemikiran liberal. Pemikiran-pemikiran JIL yang kerap melawan kemapanan pun dikampanyekan lewat berbagai media, terutama lewat media tulis. Sayap JIL semakin melebar.

JIL seolah-olah telah menjadi mazhab tersendiri dengan imamnya bernama Ulil. Kesan pengerucutan ini berawal November 2002, ketika kontroversi artikel Ulil di harian Kompas menyulut fatwa mati dari Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Bandung. Kolom berjudul ‘Menyegarkan kembali pemahaman Islam’ itu kian melekatkan label Islib pada sosok Ulil.

‘Sihir’ apakah yang ada dalam artikel Ulil, sehingga harus keluar fatwa mati?

* * *

Sungguh, tulisan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Kekuatan yang terkandung di dalamnya bukan saja bisa menghadirkan masa lalu di hadapan Anda, dan membawa Anda ke masa itu, ia juga bisa menghadirkan sesuatu yang tidak ada. Bahkan, ia pun bisa menghidupkan orang-orang yang telah mati, yang kemudian bisa Anda ajak interaksi. Sebuah tulisan bukan saja seolah-olah bisa menghidupkan orang yang telah mati. Lebih dari itu, ia seolah-olah menjadi nyawa kedua, untuk terus menghidupkan penulisnya di dunia.

Anda bisa melihat, bagaimana ternyata Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi masih berkeliaran di negeri kita tercinta, Indonesia. Kehadirannya sering mengisi forum-forum diskusi seputar fikih. Tak jarang mereka diajak berdebat, argumen-argumennya diadu. Mereka menjadi semacam konsultan masalah fikih.

Karya-karya merekalah yang menjadi nyawa kedua. Lihat juga Imam Ghazali. Dengan Ihya-nya beliau tetap hidup. Anda pun bisa bekenalan dengannya. Dengan Ihya-nya, beliau membuka klinik untuk berbagai macam penyakit hati. Bukalah Ihya-nya, Anda akan menemukan resep bagaimana ‘bercumbu’ dengan Tuhan menjadi lebih nikmat dan khusuk.

Anda juga bisa melihat betapa terpandang dan tersohornya Imam Bukhari dengan karya besarnya, Shahih al-Bukhari, kitab kumpulan hadis-hadis shahih, yang diklaim sebagai ashahhul kitab ba’da al-Quran, kitab yang berada satu tingkat di bawah al-Quran. Begitu juga dengan Imam Muslim, dan tokoh-tokoh yang sekarang masih dan akan terus dihidupkan oleh nyawa keduanya, yaitu karya tulis.

Begitulah. Mereka tidak akan Anda kenal sama sekali, kecuali Anda melihat karya tulis peniggalannya. Secara personal saya dan Anda tidak mengenal mereka, karena jasad mereka pun telah tertimbun tanah. Karya tulis yang mereka tinggalkan menjadi medium (wushlah) yang memperkenalkan kita dengan mereka. Layaknya sistem isnad dalam ilmu hadis, sebuah karya tulis adalah jembatan lintas generasi yang menghubungkan kita, yang hidup hidup pada masa sekarang, dengan orang-orang yang telah mati berabad-abad lalu. Sebuah karya tulis bisa menyatukan dua masa dan tempat yang berbeda dalam satu masa dan tempat yang sama.

Salah satu perbedaan mendasar antara bahasa tulisan dan bahasa verbal adalah sifatnya yang mempublik. Karena sifatnya itulah, seorang penulis dan pengarang memiliki potensi besar untuk menjadi orang terpandang dan tersohor sepanjang masa. Siapa yang tak kenal muassis mazhab empat?! Siapa yang tak kenal Imam Bukhari?! Siapa tak kenal Imam Muslim?! Siapa yang tak kenal al-Ghazali?! Pernakah Anda berkenalan langsung dengan mereka?! Belum pernah, bukan?! Jadi, lewat apa Anda kenal mereka?!

Lewat tulisannya, seorang penulis menembus dimensi keabadian, menyusup lewat sekat-sekat zaman. Walau dia mati, tulisannya bisa terus menjadi inspirasi.

Karena itulah, lebih dari sekedar ekspresi diri dan propaganda pemikiran, menulis juga merupakan pelaksanaan kepemimpinan dan pendidikan bagi banyak orang sampai lintas generasi. Seorang penulis bisa menjadi guru tanpa harus berhadapan dengan murid dalam satu ruang dan waktu. Tak mengherankan jika ada sebuah syair yang mengatakan, “Al-Khaththu yabqa zamaanan ba’da shaahibihi, wa kaatib al-khaththi tahta al-ardhi madfuunun“, karya tulis akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnyan hancur terkubur di bawah tanah.

Sungguh hebat mereka yang telah mengukir sejarah lewat tulisan dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Karya tulis mereka telah menjadi parfum wamgi yang mengharumkan nama mereka, menjadi nyawa yang akan terus menghidupkan mereka sepanjang zaman.

Tulisan memiliki hubungan timbal balik yang erat dan sensitif dengan penulisnya, juga pembacanya. Tulisan akan menjadi parfum, jika tulisan itu diterima baik dan positif oleh pembacanya. Sebaliknya ia akan menjadi bumerang bagi penulisnya, jika tulisan tersebut menyinggung perasaan publik. Ia bisa tiba-tiba mengganas, menghancurkan Anda, melahap harta Anda, bahkan mengancam nyawa Anda. Tahukah Anda, jika Ulil divonis fatwa mati karena artikelnya yang terlalu menyinggung sensitivitas dan mendobrak kemapanan? Ya, sebuah tulisan.

Begitulah sebuah tulisan menunjukkan kekuatannya.

Setiap kita memiliki potensi untuk menulis, dan akan menjadi aktual jika potensi tersbut selalu diasah. Jadikanlah menulis sebagai suatu kewajaran, sebagaimana Anda fasih mengatakan bahwa berbuat salah adalah wajar selama jadi menusia. Maka katakanlah, “Saya manusia, maka saya menulis. Wajar, dong!”

Yang ingin saya tekankan adalah, bahwa menulis adalah praktek, praktek, dan praktek. Anda tidak perlu repot-repot buang tenaga dan duit untuk membeli buku tentang teori tulis-menulis. Teori yang ada pada sebuah buku adalah hanya milik penulis buku tersebut. Kita jauh dari bisa untuk menggunakan teori milik orang lain. Setiap penulis memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Menulis adalah pengalaman pribadi. Selamanya Anda akan terbelenggu oleh teori, jika tanpa praktek. Sebaliknya, dengan selalu praktek, Anda akan bisa berteori.

Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller, pernah berujar, “Dengan membaca buku teori tulis-menulis, Anda baru “belajar tentang” dan sama sekali belum “belajar”mengarang/menulis. Mengarang/menulis adalah praktek. Sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa“.

Walaa tamuutunna illa wa antum kaatibuun“. Ini bukanlah plesetan dari ayat al-Quran. Dalam ilmu balaghah, ibarah seperti itu disebut dengan badi’ iqtibash, yaitu perkataan atau tulisan yang memuat redaksi mirip ayat al-Quran.

Pernakah Anda menulis? Jika belum, saya berdoa, buat diri saya dan Anda, semoga Tuhan kita tercinta memberi umur panjang, dan sebagiannya kita gunakan untuk menulis. Jika sudah, saya persilahkan Anda menikmati kematian.

Selamat berkarya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s