Waktu Dhuha


“Kolom Hikmah” Republika, 12 Januari 2008


“Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak akan meninggalkan kamu dan tidak pula membencimu. Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberimu karunia-Nya, lalu hati kamu menjadi puas.” (QS Addhuha [93]: 1-5).

 

Waktu dhuha adalah salah satu waktu yang Allah SWT sebut di dalam Alquran dan bersumpah dengannya. Ia tidak disebut dan tidak pula dijadikan sumpah kecuali memiliki hikmah yang tersirat di baliknya.

 

Dhuha memiliki arti permulaan siang atau awal terbitnya matahari. Ia juga bisa diartikan sebagai waktu siang, lawan kata malam.

 

Di dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan bagaimana waktu siang semestinya digunakan untuk mengerjakan aktivitas yang produktif, sebagaimana firman-Nya, ”Dan Kami jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan.” (QS Annaba [78]: 11).

 

Nabi Muhammad SAW pernah mendoakan orang-orang seperti ini, ”Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada umatku di waktu pagi mereka.” (HR Attirmidzi). Kenapa waktu pagi? Karena ia menjadi awal di mana aktivitas sepanjang siang siap dimulai.

 

Di siang hari, Nabi Muhamamd SAW mengingatkan mereka agar tidak terlena dalam aktivitas kerja mereka, menyempatkan waktu untuk mengerjakan shalat dhuha. Sahabat Abu Hurairah berkata, ”Rasul SAW pernah memberikan wasiat tiga hal kepadaku, yaitu puasa tiga hari di tengah bulan (Hijriah), shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

 

Allah SWT juga menjelaskan bagaimana waktu malam seharusnya digunakan untuk beristirahat. Allah SWT berfirman, ”Dia menyingsingkan waktu pagi dan menjadikan waktu malam untuk beristirahat.” (QS Al-An’am [6]: 96).

 

Begitulah Allah SWT mengarahkan manusia untuk memanfaatkan putaran waktu dengan baik dan tepat. Di sisi lain, Dia mengingatkan manusia agar tidak terlena dalam aktivitas kerja mereka di sepanjang siang, dan terlarut dalam istirahat mereka di sepanjang malam.

 

Saat di malam hari, Allah SWT membangunkan mereka agar tidak larut dalam istirahat mereka. Dia mengingatkan, ”Dan pada sebagian waktu malam, kerjakanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS Al-Isra [17]: 79).

 

Dari keterangan di atas, Allah dan Rasulnya seolah hendak mengingatkan bahwa aktivitas apa pun yang dikerjakan manusia, di sepanjang siang dan malam, seharusnya tidak membuyarkan kesadaran mereka akan Allah SWT. Dan sebaliknya, ibadah kepada Allah seharusnya tidak menghalangi mereka untuk bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s