Mahluk Allah Yang Lemah di Sisi Rumah Allah Yang Megah


Oleh Juman Rofarif

913359723l11.jpg
Suatu ketika, aku terpikir tentang mahluk Allah yang lemah bernama pengemis, rumah Allah yang megah bernama masjid, dan sebagian orang…


Di mana sebagian mereka melakuan dikotomi dalam praktik perbuatan baik (tabarru’), sehingga yang terjadi adalah ketimpangan, ironis. Sebagian mereka beranggapan, bersedakah dan berinfak untuk rumah Allah bernama masjid, lebih islami dan oleh karenanya patut dibanggakan dan dipersiapkan, ketimbang bersedekah den berinfak kepada mahluk Allah bernama pengemis. Uang seribu perak, bagi sebagian mereka “agak pantas” untuk disumbangkan di sebuah masjid, dan tapi “terlalu besar” bagi pengemis gembel. Ah, apalagi uang recehan “gope”, apalagi, apalagi, apalagi “cepe”. Tidak pantas untuk masjid, tapi, ya, pantaslah… untuk ukuran pengemis, seolah dia adalah tempat sampah yang hanya pantas menampung barang tak berguna.


Sebagian mereka harus mempersiapkan dan menyisihkan lembaran rupiah untuk sedekah masjid. Nominalnya… ya, tergantung tingkat kemegahan masjid itu. Ada yang pantas menerima satu lembar, bernominal kecil. Ada yang pantas menerima berlembar-lembar dengan nominal banyak digit. Untuk masjid, persolannya adalah, bagaimana sosok masjid itu. Uangnya… ya sudah tentu disediakan. Sedangkan untuk pengemis… ah, nanti saja, kalau ada recehan kembalian beli gorengan. Untuk pengemis, persoalannya bukan siap atau tidak siap, tapi kebetulan ada receh atau kebetulan tidak ada receh. Kalau kebetulan ada, beruntunglah ia dengan receh itu.


Maka, sekali-sekali jangan heran, ketika rumah Allah itu meraup jutaan, atau bahkan puluhan juta dalam sekali Jumat, para pengemis yang mengharap kerahiman para jamaah, hanya mengantongi sekian receh perak, dengan terkadang terlihat lembaran rupiah. Jayalah rumah Allah, bernama masjid!


Mahluk Allah pengemis yang selalu terlihat gembel… Ah, malang benar kau!. Kau terpedaya, pengemis yang selalu gembel…! Kau berpikir, orang-orang yang berbondong-bondong menuju rumah Tuhannya, akan juga menyisihkan sedikit kebaikannya untuk mahluk Tuhannya. Kau berpikir, akan meraup keuntungan yang sama, seperti yang didapatkan oleh rumah Allah. Kau salah! Lembaran rupiah, atau recehan yang ada dikantongnya, hanya untuk rumah Tuhannya yang sudah megah, atau untuk Tuhannya yang telah kaya. Tidak usah berpikir akan mendapatan sama. Sebab, hanya sekian persen dari jamaah saja yang menyisihkan uanganya, dan itu pun paling-paling (kebanyakan) receh, untuk kalian. Sebab, sebagian mereka berpikir, akan melihat Tuhan jika di sana terpampang atribut-atribut dan simbol-simbol ketuhanan. “Rumah Allah”… Barangkali mereka melihat kata “Allah” di sana… atau melihat terpampang lafal Allah-Muhammad, yang biasanya terpampang dekat pengimaman. Kau punya, tidak, simbol atau atribut ketuhanan? Sayang sekali, orang-orang terlanjur menjulukimu dengan nama “pengemis”, “peminta-minta”… tidak ada simbol dan atribut Tuhan pada dirimu. Jelek sudah reputasimu di mata sebagian mereka, walaupun tidak ada yang menzahirkan dalam ucapan sebagian mereka, kecuali dalam sinetron-sinteron kita. Karena kau jelek, maka kau hanya pantas menerima barang tak berguna berwujud receh.


Maka, sebagian kawan-kawanmu, wahai pengemis, harus melafalkan, “infaknya, pak, bu” atau “sedekahnya, pak, bu'”, untuk menarik simpati para pejalan kaki yang melintasi mereka. Sebab, dua kata itu ada “unsur agama”nya. Dan di dalam agama, di sanalah Tuhan. Dengan kata itu, pejalan kaki diharapkan “terpanggil” oleh Tuhannya.


Karena kau tidak memiliki simbol ketuhanan, maka kau pun merapat ke sisi rumah Tuhan, mengharap kecipratan berkah ketuhanan. Namun tidak selalu.


Wahai pengemis, jika ada pertanyaan… siapakah yang pantas jadi kambing hitam, dengan penghasilan mengemismu yang sedikit di sisi rumah Tuhanmu, dan pengahasilan rumah Tuhan yang belimpah, atau singkatnya, dengan ktimpangan ini… dirimu yang tidak memiliki simbol ketuhanan, atau sebagian mereka yang hanya melihat Allah pada lafal Allah dan Muhammad saja dan tidak bisa melihat “sosok” Tuhan pada kemiskinan dan kegembelanmu?


Ah, lebih baik kau tidak usah menjawabnya. Lagian, cuma “jika”, kok! Pengandaian! Kehidupanmu adalah alam nyata, bukan alam “jika” dan alam pengandaian. Kegembelanmu adalah nyata. Kemiskinanmu adalah ada. Kau menjawabnya pun tidak akan menghapus kemiskinan dan kegembelanmu. Aku cuma bisa berpikir, bahwa kau meminta karena kau butuh. Dan aku berusaha melihat “butuh” itu dari sudut pandang aku. Dengan demkian, yang pantas kau terima adalah sesuatu yang dibutuhkan, bukan sesuatu yang tidak dibutuhkan yang pantas masuk tong sampah.


Dengan sudut pandang aku (pemberi), ia akan memberimu sesuatu yang proporsional dengan keadaan dan kebutuhan dirinya. Jika aku (pemberi) kebutuhan makan perharinya adalah sepuluh ribu perak, ia akan memberimu sepuluh ribu perak. jika limapuluh ribu, maka yang diberikan segitu juga. jika seartus ribu, ya, segitu. Jika sejuta, ya, sejuta. Praktis, bukan?! Tapi siapa yang bisa berbuat demikian? Semuanya bisa. Iya, emang bisa! Sebab, nominal yang disebutkan tadi, masih wajar dan memang ada yang demikian, apalagi di Jakarta. Masalahnya, siapa yang mau! Barangkali menunggu hidayah Tuhan dulu!


Ya sudah, mari kita bersama-sama menunggu hidayah Tuhan …

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s