Ihwal Fitrah Cinta


Oleh Juman Rofarif

913359723l10.jpg

FITRAH artinya asal kejadian, bawaan sejak lahir, dan naluri manusia. Fitrah manusia sangat beragam, salah satunya adalah beragama (bertuhan). Pada dasarnya, secara naluriah, semua manusia memiliki potensi bertuhan dan mengakui keberadaannya. Karena bersifat naluriah dan sejalan dengan jati diri, maka sesungguhnya tidak ada seorang pun yang menolak potensi naluriah ini dalam jiwanya, walaupun secara terbuka mengaku dirinya atheis (mulhid), atau bahkan menganggap dirinya tuhan. Pengakuan bertuhan itu, kalau bukan sejak muda, maka menjelang usia berakhir. Al-Quran mengambarkan fenomena ini pada kisah Fir’aun. Fir’aun yang merasa dirinya tuhan (lebih dari sekedar atheis), pada akhirnya bertobat dan ingin beragama (ber-Tuhan). Tapi tobatnya tidak diterima.

Salah satu fitrah yang lain adalah jatuh cinta. Kata Pak Quraisy Shihab, bahwa mendambakan pasangan (sebagai labuhan perasaan hati) adalah fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Karena sifatnya yang fitrah inilah, agama sama sekali tidak melarang seseorang jatuh cinta kepada orang lain, bahkan ia menfasilitasinya untuk melegal-formalkan perasaan cintanya tersebut, sehingga terciptalah apa yang disebut dengan ‘pernikahan’.

Sesuatu yang fitrah dan naluriah adalah sesuatu yang tidak bisa dibohongi dan tidak bisa dicegah, walau bagaimanapun. Walaupun secara lahir dan eksplisit hal itu dipungkiri. Sebab, hati tidak bisa dan tidak akan pernah bohong. Tapi fisik (lahir)-lah yang berbohong. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan, lahir terkadang harus membohongi hatinya.

Seperti halnya fitrah bertuhan yang tidak bisa dipaksakan dan tidak pula dicegah, fitrah cinta pun demikian. Cinta tidak bisa dipaksakan ketika memang tidak cinta, dan tidak pula bisa dicegah kehadirannya ketika cinta sedang melanda. Walaupun terkadang asumsi cinta ini sering salah kaprah dipahami.

Cinta sering diidentikkan dengan pacaran (dalam arti kedekatan fisik). Padahal tidaklah demikian. Cinta dan pacaran adalah dua realita yang berbeda dan bisa dipisahkan, walaupun keduanya bisa ada secara bersamaan. Cinta adalah masalah hati, sedang pacaran adalah masalah fisik. Cinta adalah naluri dan fitrah yang tidak bisa dihindarkan, oleh karenanya ia tidak berdosa (secara agama), sedang pacaran dapat mendekatkan pelakunya pada pelanggaran aturan normatif agama dan menjerumuskan pada dosa. Cinta tidak harus pacaran, sedang berpacaran terkadang tidak didasari oleh perasaan cinta (bisa karena harta, ketampanan, kecantikkan, terpaksa, dipelet dsb.). Rasa cinta tidak bisa dibagi seadil-adilnya, sedang orang bisa saja membagi dirnya menjadi milik bersama (playboy/playgirl). Pacaran bisa putus kapan saja dan di mana saja, tapi hati tidak akan pernah bisa berpaling seketika.

Tidak perlu berbohong pada hati. Biarkan ia bicara apa adanya. Biarkan ia bicara cinta, kalau memang jatuh cinta. Karena, ia memang fitrah. Tapi, yang perlu adalah bersikap dan menata hati yang jatuh cinta itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s